Celoteh Pagi

Celoteh Pagi

Matahari muncul di ujung timur dengan malu.
Terik yang lembut terasa, menandai peluh akan tercurah kembali.
Cahaya yang menusuk mulai terpancar, menyejukkan sekaligus perih di mata.
Cahaya yang membuatku ragu.
Ragu untuk memandangnya dengan lantang, memandang sambil menghalangi dengan tangan, atau bahkan menutup mata.
Aku memutuskan untuk menundukkan pandanganku, hanya merasakan pantulan darinya.
Aku ingin menikmati pesona darinya secara utuh.
Aku pun berharap, suatu saat dia tak lagi hanya malu-malu di ujung timur.
Ia, Sang Surya Fajar, terkadang seperti dirimu.

Tahukah kamu bahwa aku berusaha?
Tak mudah bagiku untuk mengatakan tanpa kemantapan.
Tak mudah aku meminta tanpa membawa.
Bukan aku tak serius atau tak memiliki kesungguhan.
Aku pun ingin engkau dapat mengatakannya dengan mantap pada saatnya nanti.
Aku pun ingin engkau membawaku menuju ridho-Nya, bahkan ketika aku lupa meminta.

Aku ingin suatu saat engkau menemaniku setiap pagi.
Tepat saat aku akan mengejar ridho dari-Nya, Dia yang memberikan rahmat dan rezeki.
Kemudian menemani aku membasuh peluh setelahnya.
Bukan sebagai penawar letih lagi, tetapi sebagai seseorang yang membuatku menikmati segala letih, menemaniku hingga senja dan hingga petang.

in frame: pagi di Sanur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *